Belajar Mandiri dan Dewasa (Sebuah Curhat)





Ya, kata itu yang menggambarkan sekali proses akhir-akhir ini di dalam diri saya...

Pindah rumah pertama kali dari rumah orangtua..

Itu menjadikan saya bertanggung jawab penuh terhadap beberapa pekerjaan rumah sekaligus..

Dan pekerjaan itu berlangsung setiap hari..

Dan pekerjaan itu tidak bisa di-pause barang seharipun..

Tapi kembali lagi, saya merasakan betul dampak besar pindah rumah ini..

Kami, saya terutama, jadi lebih dewasa..

Jadi lebih rajin...

Jadi lebih realize so many things yang tadinya mungkin udah terjadi tapi kami abaikan karena ga berhadapan langsung..

Buat saya ini ditambah dengan kembali bekerja..

Meskipun kerjaan freelance, kerjaan saya juga menambah stress di dalam keseharian..

Kejar-mengejar jadwal..

Harus catch-up belajar IG dengan semua tools-nya itu..

Rapat mingguan...

Dan paling berat adalah belajar menerima kritik..

Yes, I know it's weird tapi saya baru menyadari bahwa menjadi ibu rumah tangga yang di rumah saja itu menjauhkan kita dari kritik apapun..

Ya siapa yang mau mengevaluasi pekerjaan kita?

Suami? Siap-siap saja dikunciin, hahaha.

Anak? Ya, mungkin bisa, karena mereka masih tulus murni maka kita bisa menerimanya tanpa baper.

Masalahnya kayanya emang ada di saya sih..

Terlalu baper kalau menerima kritik padahal kritik itu sesuatu yang penting dan benar.

Ckckckckck.

Rasanya suka mau jadi quitter.

Apakah benar ada orang yang cocok tidak bekerja?

Bukankah semua orang harus berpenghasilan?

Dan berpenghasilan itu mensyaratkan interaksi dengan orang lain?

Dan interaksi itu mensyaratkan adanya hal-hal semacam kritik..

Ya kan?

Dan begitulah hari-hari kebelakang saya jumpalitan dalam meng-adjust agar semua perfect...

Tapi tampaknya keinginan perfect ini yang sudah salah..

Perfect untuk siapa?

Kadang-kadang done sudah cukup kok..

Gara-gara mengejar perfect jadi mengabaikan beberapa tugas. Siapakah itu yang begitu? Akuuu. Wkwkwkwk

Tapi lagi-lagi saya menemukan penyemangatnya.

Ini semua ya rencana Allah.

Supaya saya makin dewasa, lincah, gesit, ga baperan, di usia 30 tahun ini..

:')

Ih akuh akhirnya 30 tahun, ahahahahaha.

Emang mau 17 tahun melulu, yeeee ;p ;p ;p

Jadi kadang-kadang jongkok minum kopi pagi-pagi di dapur sambil bikin sarapan, terus nangis aja gitu meleleh air mataku...

Huhuhuhu...

Kadang-kadang tak tertahankan ya Deyy

It's okay sih..

Namanya juga banyak adjustment di berbagai sisi kehidupan...

Tapi beneran deh, saya salut sama diri sendiri, 700% kenaikan sisi rajinnya asli deh.

Berarti dulu males banget yah you Deyy, muahahahaha.

Dan akhirnya kita itu manusia..

Diberikan rencana oleh Allah, tapi respon kita adalah tanggung jawab kita..

JADI GA BOLEH MENYALAHKAN ALLAH, OKEYYY

Justru harus sering-sering melibatkan Allah dalam berbagai kerempongan ini..

Kadang-kadang belum jam 6 pagi aja kemarahan saya udah meletus 3 x

Kalau udah gitu rasanya pengen cuti sebentar jadi Dea Adhicita, tapi kan ga bisa ya?

HAHAHAHAHA

Anak yang aktif sekali, itu anugerah...

Pekerjaan freelance, itu anugerah...

Rumah sendiri, itu anugerah...

Suami pulang malam karena jam kerja di kantor barunya lebih lama, itu anugerah...

Bisa duduk sebentar menulis blog semacam ini, itu juga anugerah...

Rekan kerja yang aktif memberikan kritik-kritik bernas, itu juga anugerah..

Target kerjaan, itu anugerah...

Semua sisi kehidupan ini itu adalah anugerah, Dey..

Kalau lagi otak dan hati terasa korslet banget, yang saya lakukan adalah memaksakan diri mengerjakan semuanya...

Berdarah, berdarah deh sekalian otak dan hati, begitu pikir saya..

Tapi kadang itu salah juga ga sih?

Kita butuh istirahat.

Kita kadang bertanduk.

Kita kadang meledak.

Dan itulah hidup.

Itulah artinya jadi orang dewasa.

:')


Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Belajar Mandiri dan Dewasa (Sebuah Curhat)"

farah hasan mengatakan...

betul dey, nanti juga kamu akan terbiasa dan tersenyum kalau mengingat hari-hari penyesuaian yang berat ini :)

Ariana mengatakan...

Curhat ya di sini aja: Curhat Cinta

Comment