Narin & Aryan (Episode : Hatimu Sekarang Adalah Tanggung Jawabku)



Sebuah mobil Kia Picanto putih merapat di pinggir jalan di perumahan terbesar Kota Depok itu.

Aryan menghentikan mobilnya setelah merapat sempurna di pinggir jalan. Sambil memperhatikan sekeliling, Aryan memarkir mobilnya di tepi jalan raya itu.

"Eh, kita udah sampai yah? Ini di mana sih, Yan? Kamu mau membawa aku kemana?" Narin menengok ke sekitarnya. Dia belum menjelajah Depok hingga ke pinggirannya.

Paling banter dia hanya di apartemen, lalu ke supermarket yang berada di bawah apartemen. Atau nonton ke bioskop yang juga ada di bawah apartemennya.

Yah, bisa dibilang Narin belum kemana-mana sejak pindah ke kota ini.

"Yap, kita sudah sampai. Yuk, turun!", ujar Aryan sambil keluar dari mobil.

Narin pun turun dari mobil. Terlihat olehnya sebuah arena luas tempat aneka lapangan olahraga.

"Ini lapangan olahraga?", tanya Narin kepada Aryan.

Sambil setengah menggoda Narin, Arya menjawab, "Iya, betul, Nyonya Aryan. Ini adalah tempat orang-orang Depok berolahraga. Lebih tepatnya ini  alun-alun Kota Depok. Ayuk, kita cari tempat duduk!"

Aryan menggamit tangan Narin. Mereka berjalan di pinggir lapangan basket.

Terlihat sekelompok anak laki-laki sednag bermain basket. Di lapangan sebelahnya, ada dua orang anak sedang bermain papan seluncur.

Narin dan Aryan tiba di kursi-kursi batu yang dilukis aneka warna.

"Sini, duduk." Aryan sudah duduk sambil menyilangkan kakinya.

Kaki dengan sepatu sneakers cokelat muda itu tampak bergoyang-goyang.

Narin duduk di sebelah Aryan.

"Nah, gitu dong. Sini, lebih dekat lagi."

"Jadi kamu jauh-jauh mengajakku ke sini cuma mau duduk-duduk, Yan? Di apartemen kan juga bisa."

Aryan tersenyum lebar. "Di apartemen kan itu-itu aja pemandangannya, Rin. Di sini kamu bisa lihat orang-orang olahraga. Tuh, tuh, seru kan, liat orang lari-lari keringetan. Kebayang kan gerahnya sumuk-sumuk gini keringetan?"

"Ih, apa deh, Yan. Jadi geli sama panas tauk bayangin keringetan di udara sumuk gini." Narin jadi tertawa membayangkannya.

Depok memang sedang memasuki pucak musim panasnya. Kondisi kelembaban yang tinggi dan curah hujan yang jarang menyebabkan perasaan yang nyaris seragam : sumuk.

"Nah, setidaknya aku bisa lihat lagi tawamu di sini, Rin. Kalau kita di apartemen kan belum tentu kamu bisa tertawa"

Aryan menatap Narin.

"Aryan...."

Narin terharu mendengar kalimat yang barusan keluar dari bibir Aryan.

"Eh, aku dulu di SMA jago basket, Rin. Kalau kamu jago olahraga ga?"

"Hmmm, nggak."

"Satu pun ga ada?"

"Hmmm, nggak."

"Hahaha, oke oke. Kalau gitu hobi kamu cuma fotografi itu ya?"

Narin memang sudah memberitahu Aryan soal hobi fotografinya.

"CUMA??"

"Eh?"

"Fotografi itu bukan "cuma". Ia meliputi seni, presisi, ketelitian, sensitifitas menangkap momen, pokonya banyak aspek yang melingkupinya."

Aryan tersenyum menyimak penjelasan dari Narin.

"Terus, sejak kapan suka fotografi, Rin?"

"Hmmm....sejak SMP, Romo yang mengajariku. Oiya, aku juga pernah bikin "pameran" kecil-kecilan. Isinya karya fotoku. Romo mengundang kawan-kawannya. Waktu itu aku kelas 3 SMA. Romo membuat acara itu untuk mengendurkan sedikit keteganganku menjelang ujian nasional."

Narin tiba-tiba berhenti bicara. Ada kerinduan yang kembali menyeruak.

Romo selalu begitu, selalu memperhatikan dirinya baik tersurat maupun tersirat.

Aryan menggenggam tangan Narin. "Kamu sangat dicintai Romo ya? Aku juga merasakan hal serupa saat Romo menemuiku waktu itu di Singapore."

Aryan memang sudah menceritakannya kepada Narin. Romo yang menemuinya di Singapore demi memintanya menjadi suami Narin.

Ah, Romo.

Narin merasa ada keinginan tak terbendung untuk menangis setiap mengingat Romo.

Aryan menguatkan genggamannya.

"Narin, Romo pasti mengerti perasaanmu yang merindukannya. Aku yakin Romo pun di sana selalu merindukanmu, Narinda putrinya satu-satunya."

Narin menoleh kepada Aryan. Lelaki itu tersenyum kepada Narin.

"Oke, karena kamu bilang kamu punya hobi fotografi. Bagaimana kalau sekarang aku cerita tentang hobiku?"

"Ah, kamu pernah cerita waktu itu, makan kan?"

"Ah, kamu ingat toh."

"Aneh tapi Yan, kamu hobi makan tapi...."

Narin melirik wajah Aryan, lalu terus turun ke badan hingga kaki dengan celana khaki-nya.

"Tapi tetep keren yak?"

Aryan tersenyum geli demi mendengar kalimatnya sendiri. 

"Keren dari Hongkong."

Narin berbisik sambil melengos setengah bercanda.

"Dari DC, Mbak. Saya keren dari Washington DC. Bukan dari Hongkong."

Narin tertawa mendengar jawaban Aryan.

Aryan memang laki-laki baik sejak dulu begitulah Narin mengenal sepupu jauhnya itu.

Tapi sejak menjadi suaminya, Narin semakin mengenali lebih jauh kebaikan hati Aryan.

Saat kecil dulu mereka hanya bertemu sekali saat Aryan dan kedua orangtuanya berkunjung ke Jogjakarta.

Lebih dari itu, hubungan mereka terputus sama sekali.

Pertemuan kedua sejak saat itu adalah di bandara pada saat Narin menjemput Aryan 6 bulan yang lalu.

Lalu semuanya terjadi seolah telah ditakdirkan. Aryan yang datang membawa wasiat Romo untuk menjadi suami Narin kini benar-benar selalu berada di sisi Narin.

Narin tiba-tiba saja merasa bersyukur. Aryan tidak pernah memaksa Narin untuk melakukan hubungan intim hingga saat ini sejak mereka mengesahkan pernikahan mereka di depan hukum negara.

Aryan selalu bilang bahwa semuanya butuh proses dan dia tidak ingin melakukan hubungan di saat Narin merasa belum siap.

Narin melirik Aryan yang sedang melihat orang-orang berolahraga.

"Aryan, kenapa sih kamu tidak mau dipanggil Mas, Abang, Sayang, Aa, atau panggilan khas istri kepada suaminya?"

Dari awal Aryan selalu membahasakan dirinya sebagai Aryan. Meskipun mereka berbeda 10 tahun, Narin pun akhirnya menurut jua.

"Oh? Tentang itu, hmmm, kenapa ya, aku suka saat kamu menyebut namaku."

Aryan mendekatkan wajahnya dan berbisik dekat sekali di telinga Narin.

Wajah Narin pun langsung memerah seketika.

"Ah! Mukamu merah, Narin. Hahaha."

Narin seketika sebal terhadap Aryan. Sudah beberapa kali dia selalu tertawa terbahak-bahak tiap mendapati wajah Narin yang bersemu merah.

Aryan tiba-tiba mendekat kepada Narin. Tangannya merengkuh bahu Narin. Tubuh Aryan tepat di sisi Narin. 

"Tenang, Rin. Kita sudah suami istri. Secara agama dan secara negara. Wajah merahmu berpahala karena sudah membahagiakan suami."

Aryan menepuk-nepuk pundak Narin. 

"Sudah sore, kita pulang yuk sekarang?" Aryan mengajak Narin untuk pulang. 

Matahari sore terlihat jingga di awan yang putih keabuan. Narin mengangguk dan berdiri.

Mereka berjalan kembali di tepian lapangan.

"Kamu pasti punya banyak mantan pacar dulu di kampus dan sekolah. Iya kan, Rin?"

"Hah?"

Narin kaget mendengar pertanyaan dari Aryan itu. Mereka memang sudah sering mengobrol tentang kehidupan masing-masing sebelum saling bertemu.

Tapi tidak masalah mantan pacar ini.

"Ada juga aku kali yang bilang gitu, Yan. Sebagai yang besar dan kerja di DC, kamu pasti dikelilingi perempuan-perempuan cantik, tinggi, berambut pirang, dan pandai mencari uang."

"Ada gitu perempuan yang tidak cantik, Rin?"

"Tuh kan. Semua perempuan di DC apalagi ya kan?"

"Hahaha... Di DC itu beragam perempuannya, Rin. Ada yang kulitnya hitam, hitam sekali. Ada yang dari China. Ada juga yang dari Mesir. Tergantung kamu sukanya yang mana."

"Kalau begitu, kamu sukanya yang mana?"

"Apa?"

Aryan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatap Narin sambil tersenyum.

Agak menunduk dan mensejajarkan mata dengan Narin, Aryan tersenyum sambil memegang kepala Narin.

"Aku suka perempuan ini yang jadi istriku."

-bersambung-



Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Narin & Aryan (Episode : Hatimu Sekarang Adalah Tanggung Jawabku)"

Comment