la la la la syu bi duph la la

Heaven…
It’s too far…
Away,,,too night..too night…


Padahal gak mau ngomongin tentang heaven juga seh,,tapi karena lagu soundtracknya adalah Heaven-nya Nidji jadilah saya nulisin refrain dari lagu tersebut di awal postingan ini.. Sebenernya yang pengen saya tulis di sini adalah kesedihan..

Ya,,kesedihan yang luar biasa dari seorang saya yang tidak tau lagi harus ke arah mana.

Saya bersedih akan hati saya sendiri. Saya bersedih akan hati orang lain. Akan diri saya dan diri orang lain. Mungkin akan bertanya apakah hal yang membuat saya sedih itu? Dengan segala kesedihan yang lebih sedih saya harus mengatakan bahwa saya tidak dapat memberitahukan hal apa yang membuat saya sedih.

Lalu, untuk apa saya menulis di sini? Untuk membuktikan bahwa kesedihan itu bisa saya lebur saat saya melulu menulis entah bagaimana tulisannya.

Saya bersedih akan hal yang menjadi ada karena saya. Entah orang lain.

I just couldn’t run from you
What’s wrong
Where I should cry

Sartre bilang hidup adalah pilihan. Mbak Ike, dosen metpenstat saya bilang, semua hal bisa diterima asal ada reasoning-nya.

Maka saya bilang saya benar-benar takut untuk melangkah entah itu mundur atau maju.
Dan hidup adalah sebuah resiko. Semua resiko yang terindah hingga terburuk ada di dalam hidup ini.

Where you go
I know it’s been just long time
But I still don’t understand
Where you go

Di sini saya menepi. Dari kehidupan saya yang punya tema besar prokrastinasi. Menulis melulu tapi tulisan saya tidak pernah menjadi bagus. Dan cuma membelah diri menjadi subjek dan kadang menjadi objek.

Sekedar iri pada orang lain sambil menatap diri sendiri dan bertanya.

Why you broken it?
Or even just like shores
You always be free

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "la la la la syu bi duph la la"

Comment