Cerpen : Pada Suatu Siang Hari di Apartemen Gari

 


Aku meraba pipiku yang kemerahan. Sungguh rasanya sakit sekali. Meskipun Gari telah sering menamparku tetap saja rasanya seperti ia pertama kali menamparku. Kupandangi sekujur tubuhku pada cermin vertikal yang berdiri di samping tempat tidur pada apartemen Gari.

Kuangkat t-shirtku, ada warna biru tua pada area perutku. Gari memiliki temperamen yang posesif. Dia begitu mencintaiku sehingga aku tidak boleh terlambat memberitahukannya di mana posisiku saat pergi bersama teman-temanku. Tadi malam aku lupa memberitahukannya bahwa aku akan pulang terlambat dari kantor karena diajak karaoke bersama teman-teman kantorku maka hukuman menantiku di hari ini.

“Sudah, ayo kuantar kau pulang sekarang, pakai cardiganmu, Sheil,” kata Gari yang telah selesai berganti baju. Aku mengangguk lalu mengambil cardigan berwarna hitam dari atas tempat tidur dengan seprai berwarna merah itu. Gari mematikan TV pada rak panjang yang menempel di seberang tempat tidurnya.

Setiap Gari memberiku hukuman, ia akan menyalakan TV kencang-kencang.

Aku sudah berpacaran dengan Gari selama 8 tahun lamanya. Gari adalah pacar pertamaku dan masih menjadi yang pertama hingga saat ini. Gari tak tergantikan di dalam kehidupanku. Dia adalah pacarku yang begitu menawan hati dan perasaanku.

Gari menyatakan perasaannya pada suatu hari berhujan di lapangan sekolahku saat ia selesai menjadi pembicara mewakili alumni berprestasi di sebuah acara seminar sekolahku.

Ya, Gari adalah alumni SMA-ku. Perbedaan usiaku dan Gari adalah 5 tahun.

Saat Gari menyatakan ingin menjadi kekasihku, usiaku masih berusia 16 tahun sedangkan Gari telah berusia 21 tahun. Aku masih duduk di kelas 1 SMA sedangkan Gari sedang meyelesaikan skripsinya.

Aku merasa melambung keluar dari bumi saat Gari menyatakan ingin menjadikan aku sebagai kekasihnya. Tentu saja aku mengiyakan ajakannya untuk menjalin hubungan romantic bernama pacaran. Sudah lama kunantikan hari di mana aku memiliki seorang kekasih. Kekasih yang begitu mencintaiku.

Gari memang mencintaiku. Kami sudah 8 tahun menjalin kisah kasih asmara yang penuh dengan momen menyenangkan.

Kami banyak menghabiskan waktu di apartemen Gari.

Namun, Gari juga memiliki kebiasaan menghukumku jika dia menganggap ada peraturan darinya yang kulanggar. Contohnya : setiap aku bepergian dengan teman-temanku aku selalu harus memberitahukannya akan pulang jam berapa dan aku harus menaatinya…. Jika tidak maka hukuman Gari akan menantiku.

Dengan tinggi 180 cm, Gari selalu membuatku terjatuh setiap ia menamparku dengan segenap kekuatannya. Pipiku akan memerah kesakitan atau bahkan pernah sampai berdarah saat dia memberikan hukuman kepadaku.

Setelah itu Gari akan memintaku menutupi pipi merahku dengan bedak, cushion, foundation, berkali-kali hingga bekasnya tidak terlihat.

Aku berdiri di lorong apartemen Gari. Kutatap sosok Gari yang sedang mengunci pintu apartemennya.

 Apakah aku mencintai lelaki ini? Kutanyakan kembali kepada diriku sendiri. Gari menggandeng tanganku setelah memastikan apartemennya terkunci sempurna.

Jika aku berjalan bersisian begini dengan Gari dapat kurasakan betapa sempurna ciptaan Tuhan dalam bentuk lelaki bernama Gari ini. Rahang persegi Gari terlihat begitu tajam. Kupikir dahulu ia adalah sosok alumni yang angkuh. Caranya berbicara memang ramah dan hangat, tapi rahang Gari memberikan kesan tak tersentuh yang begitu menakutkan.

“Kamu memikirkan apa, Sheil?” tanyanya. Aku menggeleng lemah. Kutundukkan pandanganku menatap sepatuku yang melangkah pelan menuju lift.

Di depan lift, aku dan Gari harus menunggu sejenak. Pantulan bayanganku pada pintu lift membuatku menyadari satu hal : rambut cokelat brunnete-ku terlihat kusam sekali.

Sudah berapa lamakah rambut itu tidak bercahaya, Sheila? Bukankah rambut cokelat tua kemerahan yang memukau itu adalah kebanggaanmu? Gari masih menggenggam erat tanganku saat pintu lift terbuka.

“Kita makan dulu di kafe seperti biasa yuk, Sheil?” katanya di dalam lift.

“Yuk,” kataku.

Perutku memang sudah sakit. Bukan hanya karena sakit keroncongan karena lapar melainkan juga karena tadi Gari menendangnya.

Untung saja aku tidak sampai muntah di apartemen Gari. Mengapa? Karena jika aku muntah di sana maka aku harus membersihkannya sampai tidak tercium bau muntah lagi. Hidung Gari yang tinggi menjulang bak monumen nasional itu sangat sensitif dengan bau-bauan.

Sekali waktu aku pernah terlambat memberitahu Gari bahwa aku ada jam pelajaran tambahan di sekolah ketika aku duduk di kelas 3 SMA. Sepulang dari sekolah aku langsung pergi ke apartemen Gari. Di sanalah tempat aku biasa mendapat hukuman berupa tamparan ataupun tendangan.

Tidak ada yang harus dibesar-besarkan dari setiap hukuman itu. Aku terbiasa oleh tempramen Gari yang keras. Aku begitu percaya bahwa semakin tinggi jenjang hubunganku dengannya maka karakter Gari akan perlahan berubah.

Kami telah sampai di kafe favorit kami. Kafe itu berlokasi di seberang apartemen Gari. Kami hanya tinggal menaiki jembatan penyeberangan untuk sampai di sana. Gari sudah tahu makanan dan minuman yang selalu kupesan : jus stroberi dan roti bakar cokelat.

“Besok kujemput jam 6 pagi ya Sheil,” katanya sambil menyeruput secangkir kopi espresso. Aku mengangguk. Besok kami akan menuju kawah putih di Bandung untuk pemotretan pre-wedding kami.

Ya.

Aku dan Gari akan menikah 6 bulan lagi.

Dengan anak mataku kulirik Gari yang sedang asyik mencuil-cuil spaghetti di hadapannya. Wajah Gari kini berkumis tipis.

Dulu saat menyatakan perasaannya, wajah itu putih bersih tanpa kumis. Menurut Gari dengan kumis tipi situ adalah sebuah tanda bahwa ia semakin mendewasa, toh kini usianya memang sudah 29 tahun.

Menurutku itu semakin menambah kegagahannya. Aku selalu bangga bisa menjadi kekasih dan calon istrinya.

Gari selalu mengajakku jika dia diundang ke pernikahan temannya. Dia akan menjemputku di rumah lalu memuji betapa cantiknya aku.

“Kamu memiliki kecantikan yang sempurna, Sheil,” kata Gari pada suatu ketika. Ah, wajahku dipenuhi semburat pink karena rasa malu.

Gari selalu membanggakanku di hadapan teman-teman dan keluarganya. Ini Sheila, kekasihku, begitu kata Gari mantap.

Semua perbuatan kekerasan yang dilakukan oleh Gari tidak pernah kuceritakan kepada siapapun. Baik itu kepada keluargaku maupun sahabat-sahabatku. Mereka hanya mengetahui aku sangat beruntung bisa memiliki Gari menjadi kekasih.

Aku menyuap sepotong roti bakar cokelat ke dalam mulutku. Suara denting pada pintu kafe berbunyi menandakan sesosok lelaki memasuki kafe dengan menggendong ransel hitam.

Memang banyak mahasiswa yang mengerjakan tugasnya di kafe ini karena apartemen Gari dan kafe ini terletak pada kawasan universitas terkenal di kota Depok.

Gari sudah bekerja selama 6 tahun di sebuah start-up di Jakarta tapi dia masih mau mempertahankan apartemennya di Depok agar dekat dengan rumahku. Aku tidak bisa lebih bersyukur lagi mendapatkan seorang kekasih seperti Gari. Dia begitu mencintaiku.

Gari melamarku satu bulan yang lalu. Suatu hari pada akhir pekan seperti hari ini aku mengunjungi apartemennya.

Biasanya kami akan menonton bioskop di mall tidak jauh dari apartemen Gari atau makan di kafe favorit kami, tapi hari itu Gari memasak untukku.

Salmon panggang dengan nasi merah dan salad segar tertata cantik di atas meja makan kecil di apartemen Gari.

Malam itu aku makan malam dengan sangat romantis di apartemen Gari yang sudah kuhafal setiap lekukan lantainya itu. Sesaat setelah makan malam, tiba-tiba lampu apartemen Gari mati. “Apa kau belum membayar tagihan listriknya?” tanyaku kepada Gari. Gari hanya menggeleng. Tiba-tiba pada dinding apartemen yang gelap itu layar TV Gari menyala dan memutar video kebersamaan kami sepanjang berpacaran 8 tahun lamanya.

Ada begitu banyak memori sepanjang 8 tahun perjalanan… aku sendiri merasa terharu melihat betapa jauh perjalanan kami berdua. Gari menutup video mengharukan itu dengan berlutut sambil mengatakan sebuah kalimat yang sering kudengar di film-film itu : “Will you marry me?”

Tentu saja kujawab iya.

Tentu saja aku mau menjadi istri dari Gari. Aku begitu mencintainya, dan dia pun begitu mencintaiku. Tidak ada keraguan di hatiku pada poin itu. Tidak sama sekali.

Suatu hari nanti, Gari pasti akan berubah. Gari tidak akan lagi kasar kepadaku setelah kami menikah.

“Mamaku mau menghubungi ibumu untuk penentuan warga seragam keluarga besar untuk pernikahan kita, apa boleh, Gar?’ tanyaku sambil menyesap jus stroberi yang tinggal sedikit sekali di gelasku. Aku memang lapar sekali siang hari ini. Setiap sesi hukuman dari Gari membuatku menahan semua gejolak emosi. Aku hanya diam mematung saat Gari menampar atau menendangku. Itu membutuhkan energi yang besar sekali untuk diam saat kau ditampar dan ditendang.

“Boleh dong,”  kata Gari.

Tiba-tiba sebuah tangan terulur mengajakku bersalaman. “Hallo, maaf mengganggu. Apa boleh berkenalan? Aku Angga, mahasiswa semester akhir psikologi. Aku sedang butuh subjek untuk pengisian kuesioner dengan karakter partisipan seorang yang berasal dari keturunan luar negeri, sepertiya mbak cocok dengan karakter itu” kata laki-laki yang masuk ke kafe mambawa ransel tadi. Tebakanku benar rupanya. Dia adalah seorang mahasiswa.

Mahasiswa itu memberi isyarat menujuk rambutku. Rambut bergelombangku memang berwarna brunnete atau cokelat kemerahan karena papaku berdarah Inggris-Pakistan. Aku tersenyum sopan sambil mengangguk kepada mahasiswa itu. Mengisi kuesioner tidak akan lama, kupikir. Aku hendak berdiri dari kursiku ketika Gari membuka suara.

“Maaf, dia tidak bisa,” kata Gari dingin. Tangan Gari menepis tangan mahasiswa itu. Mahasiswa itu agak kaget tapi langsung dapat mengendalikan emosinya. “Sebentar saja kok Mas, saya pinjem pacarnya cuma sebentar kok, boleh ya, hehehe,” kata mahasiswa itu sambil setengah tertawa.

Tatapan mata hitam Gari telah berubah. Kilatan mata Gari kini berubah menyeramkan. Oh tidak.

“Maaf, dia tidak bisa,” kata Gari sekali lagi kepada mahasiswa itu. Setelah itu Gari bangkit dari kursi kafe berwarna cokelat itu sambil menarik tanganku. Tanpa menatap mahasiswa itu Gari mengangkat dan membawa tasku.

Ah.

Aku hafal.

Aku ingat.

Tatapan seperti ini….

Tarikan tangan seperti ini….

Gari menggandengku keluar dari kafe. Tangan Gari yang keras seolah ingin meremukkan tanganku dalam genggamannya. Gari menuntunku cepat ke jembatan penyeberangan. Kami akan kembali ke apartemen Gari.

Aku akan dihukum. Aku menghela nafas.

Sesampainya di apartemen, Gari mendudukkanku di tempat tidurnya yang berseprai merah, menutup pintu apartemen, menyalakan TV-nya dengan volume kencang-kencang.

Gari berdiri berkacak pinggang di hadapanku. Wajah putihnya berkilat penuh amarah dan kebencian. Tangannya menyentuh pipiku, menelusuri rambut brunnete panjangku yang kuikat, Gari menjambaknya dengan sekuat tenaga.

“KAU KIRA KAU SIAPA PEREMPUAN TOLOL, BERANI-BERANINYA TERSENYUM KEPADA LELAKI ASING DI HADAPANKU, JAWAB AKU, SHEILA!”

Aku mendongak paksa menatap langit-langit apartemen Gari dengan tatapan penuh kengerian. Rambutku berada di dalam genggaman Gari. Suara volume TV semakin ditambah oleh Gari.

Aku berusaha diam menahan amarah Gari namunair mataku mulai mengalir tak terkendali. Gari melepaskan jambakannya. Ia berjalan mondar-mandir sambil mengeluarkan sumpah serapah.

Ini tandanya aku akan memasuki fase hukuman kedua. Tangan Gari melayang cepat menampar pipiku. “PLAK!” Gari berteriak keras sekali di telingaku sambil menjambak dan menamparku berkali-kali. Aku tersungkur di lantai. Aku bersimpuh, berusaha menunduk dari tamparan Gari selanjutnya. Namun Gari tidak mau berhenti begitu saja. Satu tendangannya mendarat tepat di perutku. “BUGGH!” Aku merasakan sakit  yang teramat sangat.

Aku mencintaimu Gari. Aku akan menahan semua rasa sakit ini hanya untukmu….

Kulihat pada jendela di dinding belakang TV yang dinyalakan tanpa ditonton milik Gari itu, langit akhir pekan begitu cerah. Cerah sekali dengan awan putih berarak di langit biru muda. Indah sekali, seindah harapanku kepada Gari bahwa dia akan berubah setelah pernikahan kami….

 

Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Cerpen : Pada Suatu Siang Hari di Apartemen Gari"

Tami Asyifa mengatakan...

Sakitnya.... Ngilu bacanya

Comment