Masih ada hari esok untuk saya dan Ninul

Tadinya saya tidak yakin masih ada hari esok untuk kami. Rasanya setiap hari menurunkan derajat keinginan kami untuk melihat hari esok. Entah kuis yang tidak maksimal atau tugas yang membuat hati eneg, semuanya saya dan Ninul rasakan dan temukan.

Bukan hal mudah untuk berteman, saya rasa. Apalagi bersahabat.

Dalam hidup saya, saya SANGAT membutuhkan sahabat.

Waktu di SMA, sahabat saya adalah orang-orang yang satu organisasi dan kerap membersamai saya dalam kepanitiaan. Sahabat saya adalah orang yang tau seluk terdalam hati saya. Meski kata orang toh saya ibarat buku yang terbuka, tapi tetap saja, sahabat adalah orang yang saya ingin beri tau apa-apa tentang saya.

Entah karena apa, bagi saya saya butuh orang yang derajat kedekatannya sangat dekat. Bukan cukup dekat atau dekat. Dan begitulah setiap sisi kehidupan saya dari SD hingga kuliah saya lewati dengan adanya sahabat-sahabat saya.

Sahabat bagi saya adalah denyut dalam hati yang terbingkai dalam monumen-monumen. Tegak berdiri. Dan hanya masalah kekerapan. Sahabat tidak pernah putus, pikir saya.

Di kampus, saya bersahabat dengan Ninul. Sosok yang makin hari makin saya kagumi. Untuk setiap hal yang telah dia lakukan bersama saya. Bahkan saya selalu tidak habis pikir, bagaimana sedemikian rupanya ia bisa menampilkan persona berupa Ninul yang lugu sedemikin hebat? Padahal ia lebih dewasa adanya dibanding saya. Lebih sabar daripada saya. Dan lebih berpikir baik-baik sebelum melakukan sesuatu daripada saya.

Pyuf.

Kini, kami tengah menghadapi badai. Untuk minggu menjelang UTS, dosen-dosen menggila menghujani kami dengan tugas-tugas. Karena dalam pikiran dosen, UTS = liburan ,sehingga seminggu menjelang UTS, tugas menghujani kami bagaikan hujan di bulan Desember.

Tapi,
Selalu ada hari esok yang menjanjikan warna bahagia bagi kami.

Aku cinta kamu, beyb!

P.S. beyb adalah pangggilan kesayangan kami berdua

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Masih ada hari esok untuk saya dan Ninul"

Comment