Senarai part 4



Malam semakin larut. Adam terbaring di tempat tidurnya sambil terus mengecek jadwalnya esok hari pada telepon genggamnya. Hmm. Besok dia harus menemui dosennya untuk mengambil jadwal semester depan sebagai asisten dosen. Adam memang telah memiliki penghasilan sejak tahun lalu sebagai peneliti dan asisten dosen. Tiba-tiba ada notifikasi masuk. Adam meliriknya. Itu notifikasi WhatsApp. Sepertinya grup-grup WhatsApp tak pernah berhenti berdegup. Adam membacanya selintas-selintas.

Sebuah chat pribadi masuk. Adam membukanya. Pita. Adam menatap layar ponselnya.

Sender : Pita
“Dam, sepertinya besok kita wajib rapat dadakan KOMPEK deh. Anak-anak minta lo turun tangan langsung sekalian kita setting ruangan. Siang bisa kan?”

Sender : Adam
“Okeh siap, bu. Dimana besok?Gua besok free siang-siang kok.”

Adam menaruh ponselnya. Dia mencari buku agendanya di laci mejanya. Adam menuliskan apa saja agendanya untuk besok. Pada ujung kalimat terakhir, Adam terhenti sejenak. Dia menambahkan satu kalimat lagi sebagai agenda. ‘Mencari kontrakan di sekitar kampus’. Setelah menuliskannya, Adam membuka laptopnya, ada beberapa yang harus dia sampaikan di rapat besok. Adam sibuk mengetik bahan rapatnya.

***
Pita

Hai, namaku Pita. Pita Amalia nama lengkapku. Aku baru saja kecewa pada diriku sendiri. Bisa-bisanya aku masih berharap sosok itu membalas chat-ku lebih panjang lagi. Ya, dia. Adam Wicaksana. Si ketus yang jago organisasi dan jago akademik. Adam. Si baik hati yang suka membantu semua orang.

Pita menggigit bibir bawahnya. Come on, Pit. Kamu naif. Adam tidak pernah punya perasaan padamu. Iya, tapi aku yang telah jatuh suka padanya. Aku menyukainya. Aku menyukai Adam. Kedua mata Pita berkaca-kaca. Dia menyukai semua sisi kepribadian Adam. Adam yang galak. Adam yang bossy. Adam yang peduli. Adam yang suka membela teman.

Pita ingat betul Adam yang suka perintah sana-sini itu adalah Adam yang juga memutuskan kembali lagi ke kampus hanya karena Pita melaporkan  bahwa dia belum pulang karena terjebak hujan selepas rapat. Adam yang ketua kepanitiaan itu kembali ke kampus dan membawakan Pita sebuah payung. Hujan deras dan angin menderu-deru keras sekali saat itu. Halte kampus hampir kosong. Pita berdiri mematung di sana terpana melihat Adam yang berseru, “Woy! Pita! Pake nih Pit payung gue. Buru pulang gih, kabarin kalo udah sampe rumah, okay?”

Adam berlalu sehabis memberikan payung itu. Punggung Adam yang menjauh dalam hujan terekam sempurna di memori Pita. Ah, Adam. Dia memang baik dan tegas. Dia menyayangi semua bawahan di organisasinya. Dia kadang-kadang bossy. Tapi Adam selalu memperhatikan semua temannya dengan sangat baik.

Hufff. Pita menatap layar telepon genggamnya lalu melirik deretan buku pada rak bukunya. Dia mengetik sesuatu pada aplikasi chattingnya. Pita harus memanjang-manjangkan urusan dengan Adam.

Sender : Pita
“Dam, jangan lupa lo besok bawain buku Machiavelli yak. Gue pinjam, okay?”

Nun jauh di sana, chat dari Pita langsung sampai di ponsel Adam. Namun, Adam sudah lelap tertidur ke alam mimpi. Di dalam mimpinya dia melihat sosok perempuan melambaikan tangan kepadanya. Adam berjalan menghampiri perempuan itu. Perempuan itu tersenyum manis kepada Adam lalu menunduk malu. Adam memanggilnya setengah takjub, “Lia?”

***

Lia membuka buku itu dengan perlahan, dia membacanya pada bagian kewajiban istri. ‘Seorang istri wajib menjadi sahabat bagi suaminya. Saat suaminya bersedih, istri adalah sosok yang meneduhkan. Saat suaminya khawatir, istri adalah sosok yang menenangkan. Istri adalah pelabuhan paling nyaman bagi seorang suami’

Lia terbayang wajah Adam saat membaca kalimat barusan. Pelabuhan? Bagi orang se-bossy itu? Hhh, Lia menghela nafas berat. Yah, iya sih Adam tampak bertanggung jawab. Setidaknya dia meminta Lia menyiapkan dirinya dengan memperbanyak membaca buku-buku spesifik tentang bagaimana menjadi istri . Lia sangat sepakat sejujurnya tentang hal itu.

“Tok-tok-tok”, suara pintu kamar Lia diketuk dari luar. Lia bangkit dari duduk dan membukakan pintu.

“Lia, Ibu mau ngobrol-ngobrol sebentar. Boleh kan?” Ibunya duduk di tempat tidur Lia.

“Boleh dong, Bu.”

“Li, ada beberapa hal yang ingin sekali Ibu sampaikan saat anak Ibu menginjak jenjang pernikahan.” Suara Ibu terdengar sedikit bergetar haru.

“Bu,” Lia langsung menggenggam erat tangan Ibunya.

“Li, pernikahan adalah sesuatu yang tidak main-main. Ketika dua orang mengikat janji akad nikah, sesungguhnya itu janji yang luar biasa besarnya. Saking besarnya janji itu hingga sanggup menggetarkan singgasana Allah.” Ibu menatap Lia penuh kasih sayang.

“Ibu sangat berharap kamu mampu menjadi istri yang baik. Gapapa, Li, kalau nantinya kamu menghadapi jatuh bangun di kehidupan pernikahan. Hal itu sesuatu yang wajar. Yang paling penting adalah jangan berhenti. Itu lebih dari cukup. Ibu sangat-sangat ingin melihat kamu bahagia di dalam pernikahanmu“ Ibu mulai terisak haru.

“Ibu…”, Lia memeluk Ibunya.

“Satu pesan terakhir Ibu, jangan pernah meremehkan suamimu ya, Li? Betapapun kamu nanti ada masalah dengan suamimu, diamkanlah sejenak. Amarah tidak pernah hilang kecuali dengan diam lalu tenang.” Ibu tersenyum sambil menggenggam tangan Lia. Lia merasakan malam ini sangat sedih kelak harus berpisah dengan ayah dan ibunya.

“Bu, Lia minta doanya ya? Semoga Lia bisa menjadi istri yang baik sebaik ibu di samping ayah.” Mereka berpelukan bersama.

-bersambung-

*KOMPEK = Kompetisi Ekonomi, event tahunan yang diselenggarakan mahasiswa FE UI



Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Senarai part 4 "

Comment